Berbatasan dengan hamparan Gurun Sahara Barat yang terbentang di selatan, barisan Pergunungan Atlas di barat daya, serta kota-kota tua peninggalan abad pertengahan yang dimilikinya; pesona Maroko tiada duanya.
Negara Timur sering digambarkan sebagai negara yang eksotis dan penuh teka-teki. Masyarakatnya dianggap sensual, tidak beradab, serta bodoh. Semata-mata karena pola pikir yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang telah diterima Barat. Penggambaran melalui stereotip ini kemudian menjadi justifikasi bagi negara Barat untuk menjadikan negara Timur sebagai bangsa yang beradab melalui kolonialisasi. Sikap negara Barat yang merendahkan budaya lain inilah yang menjadi salah satu inti pembahasan dalam orientalisme.
Nyatanya, pandangan negatif mengenai negara Timur tersebut tidak sepenuhnya benar. Si cantik Maroko, misalnya. Berbatasan dengan hamparan Gurun Sahara Barat yang terbentang di selatan, barisan Pergunungan Atlas di barat daya, serta kota-kota tua peninggalan abad pertengahan yang dimilikinya; pesona Maroko tiada duanya. Jika dilihat dari letak geografis, posisi Maroko pun diuntungkan karena memiliki garis pantai di Samudra Atlantik dan di Laut Mediterania.
Terlepas dari pesona alamnya, percampuran antara kebudayaan Arab, Eropa, dan Berber (suku asli Afrika Utara) yang kental juga memberikan corak tersendiri bagi warisan budaya Maroko. Kekhasan tersebut tercermin dalam gaya arsitektur yang dimilikinya: pembuatan air mancur yang dipengaruhi gaya arsitektur Arab, penggunaan teknik Persia dalam konsep ubin geometrik Maroko (zellige), hingga pendirian bangunan-bangunan modern yang terinspirasi dari gaya arsitektur Perancis. Sentuhan modern dalam seni yang dibalut unsur historis ini memikat siapapun yang melihatnya.
Penerapan gaya arsitektur tersebut terlihat dari warisan kota-kota tua yang dimilikinya. Sebut saja Marrakesh, dikenal dengan istilah “Kota Merah”, yang tumbuh pesat sebagai pusat penyebaran budaya dan agama serta pusat perdagangan di kawasan Maghreb. Tak hanya itu, berbagai kerajinan tangan lokal, seperti syal dari sabra (sutra kaktus), pajangan keramik, hingga karpet dan patung, juga menghiasi setiap sudut kota. Kolaborasi warna yang terbentuk menjadikan Marrakesh sebagai kota yang penuh warna.

Hal unik lainnya juga ditemukan dalam tradisi masyarakat Maroko. Sebagai bangsa yang begitu memperhatikan etika, cara memberi salam kepada sesama dan lawan jenis sungguh diperhatikan. Memberi salam atau saling mencium pipi dilakukan kepada sesama jenis, sedangkan pemberian salam oleh laki-laki dilakukan dengan cara membungkukan badan kepada perempuan. Tradisi pemberian salam ini meruntuhkan anggapan bahwa bangsa Timur identik sebagai bangsa yang tidak bermoral.
Ya, cara masyarakat Maroko mempertahankan tradisi dan warisan budayanya memang begitu mengagumkan. Mereka bukan masyarakat yang bodoh dan tidak bermoral. Mereka tidak mudah terlena godaan modernisasi. Singkat cerita, mereka membangun peradaban lewat peninggalan seni dan budaya yang dimilikinya. Warisan kota-kota tua peninggalan zaman imperialisme dirawat hingga saat ini, sedangkan kota-kota modern juga terus dibangun untuk mengimbangi modernisasi. Percampuran unsur modern dengan budaya tradisionalnya inilah yang membedakan Maroko dengan negara lainnya. Dengan keunikan seni dan kebudayaan yang dimiliki Maroko, apakah anggapan bahwa negara Timur selalu di bawah Barat masih sepenuhnya benar? (FMS)
Tulisan ini dimuat dalam Warta Himahi Edisi #3 ‘Orientalisme,’ Februari 2018.